Not all who wander are lost.

First, let me explain why my blog title is using J.R.R. Tolkien’s quote :

Not all who wander are lost.

Jadi, saat saya pindah ke Singapura tahun lalu, sahabat-sahabat saya berkongsi untuk memberikan kado perpisahan. Passport cover dan travel pouch yang senada – bergambar cover Penguin books-nya D.H Lawrence berjudul The Lost Girl.

Sejak itu, setiap kali saya traveling, saya mencoba untuk mengambil foto cover paspor saya dengan latar belakang bangunan khas / pemandangan khas setempat. Kadang lupa juga sih. Tapi ada beberapa yang sukses, seperti di bawah ini.

Macau – People’s Republic of China

IMG-20130304-00487

Beijing – People’s Republic of China

IMG-20121226-00467

DSC01322

Luang Prabang – Laos 

IMG-20121124-00404

Phnom Penh, Cambodia

IMG-20121118-00401

Bagan – Myanmar

IMG_20130223_163209

Sejak pindah Singapura memang sepertinya frekuensi traveling saya berlipat-lipat lebih sering. Entah kenapa dengan standar gaji Singapura, biaya perjalanan itu menjadi lebih masuk akal. Dan beberapa kali juga saya jalan-jalan sendirian di kota asing. Kadang sih separuh ya, misalnya pas ke Beijing – saya menginap di apartemen teman saya, tapi kemana-mana sendirian karena dia harus ngantor. Kadang juga seperti saya di Hong Kong – saya menginap di apartment seorang Couchsurfer HK yang aslinya dari New Zealand (yang juga baru saya kenal), dan kemana-mana sendirian.

Dan saat jalan-jalan sendirian inilah, saya merasakan betapa akuratnya quote ini :

Capture

I get to know myself better. In various ways.

Dari hal yang sederhana seperti level energi saya yang optimal adalah semasa mentari bersinar (sekitar jam 9 pagi sampai jam 7 malam) – sebelum itu pasti saya  susah bangun, dan setiap kali saya jalan seharian, selepas matahari terbenam pasti saya kelelahan, dan jadi sensi lalu gampang bad mood.

Atau contoh yang lain adalah : saya kalau traveling sendirian tidak terlalu peduli sama makanan. Unless eating in one certain place has already been considered as a one-of-the-experiences-you-must-have-when-you-travel-to-one-place (seperti restoran dimsum Tim Ho Wan di Hong Kong,yang merupakan restoran dimsum peringkat Michelin termurah di dunia – saya rela keliling-keliling 1,5 jam mencari lokasi resto ini, meski harus mutar-mutar sana sini haha).

But if not, i couldn’t care less. Saya bisa cuma makan pagi di awal hari sebelum jalan-jalan .. dan baru makan lagi saat matahari terbenam, saya sudah kelelahan dan siap pulang. Mungkin karena ini juga sahabat saya Syanthy suka cranky kalau traveling sama saya. Karena dia tipe orang yang suka cranky kalau lapar, sedangkan saya suka lupa makan. Jadilah ada masa-masa dimana kita jalan berdua dengan muka memble karena belum sempat makan, seperti suatu malam di dalam tuk tuk di Laos sepulang menjelajah That Luang Temple di Vientiane. Dia memble, karena belum makan. Saya memble, karena dia memble, kan kesel aja kalo travel buddy satu-satunya nggak asik diajak ngobrol. Hahaha.

Anyway, contoh yang lebih dalam adalah bahwa saya belum sepenuhnya bisa mengalahkan rasa kesepian yang timbul saat traveling sendirian. Saya pernah nangis hampir sesenggrukan di pojokan Avenue of the Stars, Hong Kong karena habis melihat skyline paling keren (yang pernah saya lihat, konon sih skyline Hong Kong itu masih kalah sama Shanghai) tapi nggak punya teman berbagi.

Sialnya, di Hong Kong, orang muka Asia (Melayu) itu sepertinya dianggap warga kelas kesekian karena saking banyaknya asisten rumah tangga asal Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Hong Kong. Jadi turis berkulit putih pun seperti jiper kalau diajak ngobrol – mungkin karena mereka takut dipelet, dipaksa menikahi lalu disuruh membiayai ayah ibu dan ketujuh saudari di kampung di pedalaman Jawa Timur (no offense, saya secara acak aja memilih Jawa Timur, sebenernya bisa dimana aja. Malah pedalaman Kelantan atau Trengganu juga bisa kali ya. Haha).

Anyway, they said the first step of solving a problem is by acknowledging such problem exists. Ada baiknya juga saya pernah nangis di Hong Kong sendirian, karena saya jadi tahu bahwa saya harus berhenti meromantisasi perjalanan saya. Yes, i am traveling by myself, so what. Foto-foto, lalu beranjak lah ke spot menarik berikutnya. Get busy. Don’t dwell in the fact that I am traveling alone, i have no friends, i have no one to share it with .. BLAH. I should stop doing that.

Dan satu lagi, saya harus berhenti sok-sok asik menarik diri. Because although I can enjoy the whole day without talking to anyone, it turns out i feel most energized when having nice conversation with small group of people. So that’s what i should do. Talk to people. Get to know them. Get to know their story.

I remember one time I felt good after having short conversation with a local uncle at a local Buddhist temple in Jakarta, right before Chinese New Year celebration. Kejadiannya random sekali, dia kebetulan saja duduk di sebelah saya, dan saya iseng nanya satu-dua pertanyaan, dan akhirnya kami jadi mengobrol – sementara teman saya, di jurnalis foto sibuk berburu foto entah di pojokan klenteng sebelah mana. And it felt good. Most probably I would not see this person anymore, but it felt good to get a glimpse of a person’s life.

Well, those are some of the lessons that I got while traveling all by myself. They were right. You indeed get to know yourself better, if you’re traveling by yourself – cause you will be spending time with yourself a LOT, you’ve become more aware of your feelings, your thoughts, and how your reacts to things.

Those are the lessons you cannot get if you’re traveling with other people – cause your thoughts, feelings and decisions will be affected by these other people. So you won’t be able to recognize which one is truly yours, which one is not.

Anyway, I start this blog merely because I am about to move out of Singapore. Kemana?

To travel and volunteer around Nepal and India for four months.

Yes this girl will wander once again.

But no. I don’t think I am lost.

I know i am not going there because i am lost. I am going there with a purpose.  Although without too much obsessive planning – karena saya cuma tahu bahwa saya akan jadi sukarelawan di organisasi setempat selama 4 minggu (Nepal) atau 3-5 minggu (India) dengan waktu traveling ekstra selama 2 minggu di akhir periode volunteering,  dan dua hari bebas setiap akhir Minggu – dan saya masih belum tahu nanti mau kemana saja di waktu-waktu bebas ini (tergantung budget yang masih ada, sepertinya).

I go there because i know this is something I have to do. Saya belum tahu kenapa persisnya, but i know i am going to figure this out one day. And i will tell you once i know.

This is the premise of the whole blog. Will write more, definitely.

Maybe sometimes I will post about the past trips that I haven’t been able to share. Or maybe sometimes I will post my stupid thoughts and fears and worries – cause really, this is my first time doing this.

I am discovering this whole new part of my life, and this blog will be the record of my discoveries and learning.

So.

The lost girl is going to Nepal and India.

But this time, she is no longer lost.

Cause really, i think she has been found.